Senin, 13 Agustus 2012

Air mata preman


Man, mann…
Sebagai preman langkah perjalanan yang kamu lalui sudah panjang berliku. Jalan mendatar, terjal bahkan naik memanjat sudah ditaklukan. Berbagai tempat sudah kamu singgahin, banyak sobat dan musuh yang kau temui dan waktu sudah menghantarkanmu dengan segala peristiwa yang menempamu menjadi sosok tegar.
Setegar batu karang, kokoh, kuat selalu menantang ombak. Namun langkahmu tak pernah surut meskipun sedikit demi sedikit ragamu semakin merapuh.
Itu semua membuatku kagum dan harus banyak belajar darimu..
Namun pagi ini kulihat ada air mata yang menetes..
Sesuatu yang menurut Kitab preman disebut Haram,
Lebih baik badan bersimbah darah dari pada mata berkaca,
…… Aku tau itu bukan kamu
bukan karena lukamu, karena kamu sudah kebal dengan berbagai goresan dan kamu selalu bisa menahan luka.
Seekor singa tetaplah seekor singa meskipun beresonasi maupun berevolusi apapun tak akan bisa merubahnya menjadi seekor kelinci.
Maka air mata itu jatuh bukan karena rapuh, tetapi semata-mata karena kamu melihat ada keping sebelahmu yang rapuh.. Rasa iba meluluhkan ketegaranmu dan kamu biarkan tercipta lubang baru, sebuah titik lemah yang sengaja kamu ciptakan.
Seandainya aku kalungkan pisau di lehermu aku yakin, kamu tak akan gentar untuk terus menerjang, tetapi jika pisau itu diputar ke arahku … Tak hayal kamu akan jatuh mengiba tak berdaya.
Tidak ada salahnya seorang preman berbekal tisu. Kalau itu dipakai untuk membersihkan mulut dari sisa kemurkaanmu. Asal tidak lagi digunakan untuk menyeka air matamu. Air matamu tak perlu menetes karena tidak ada pisau yang mengarah ke kamu maupun ke arahku…


Label:

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda